Satu fenomena yang paling kami cintai sebagai seorang melankolis adalah : saat titik-titik air di udara bertabrakan satu sama lain, lalu menjadi semakin berat dan akhirnya tidak dapat lagi mempertahankan kondi… Hmm. Ehem. Sori, kadang-kadang melankolis gue suka kumat. Oke, maksud gue tadi adalah, kami orang-orang melankolis sangat suka hujan. Karena :
- Hujan mewakili perasaan gue yang terdalam.
- Saat hujan aku ingat kamu.
- Hujan menyamarkan air mataku.
- Karena saat itu langit menangis bersamaku.
- Hanya pada saat hujan aku bisa berdiri sendirian di tengah jalan.
- Karena suara hujan menyamarkan suara detak jantungku di tengah dunia yang mati ini.
- Bau hujan mengingatkanku saat kamu memelukku.
- dll. Gue bisa habis seharian buat nulis ribuan alasan kenapa orang-orang melankolis suka hujan.
Baca selengkapnya »
Lu ho!
Lu ho bo?
Ciak pa boey?
La ho.
*dan salam dalam bahasa cina lainnya yang berarti “Selamat malam cinta!”*
Ribuan tahun yang lalu, manusia begitu makmur, begitu bersatu, begitu kuat karena dulu hanya ada satu bahasa di bumi. Manusia lalu membuat sebuah menara yang begitu tinggi agar mereka bisa mencapai Tuhan. Menara itu bernama Babel, singkatan dari Bangka-Belitung. Halah. Kagak pake singkatan-singkatan, Babel doang.
Baca selengkapnya »
Jan10
…
Kami terengah-engah berlari di lorong kecil dan lembab itu. Antara kami ternyata adalah pria-pria yang terlahir dengan kaki wanita, atau wanita pelacur yang kami kejar ini mungkin sebenarnya bukan wanita. Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan terakhir. Aku mencium pelacur itu tadi pagi. Senyum kecil muncul di sudut bibirku tiap aku mengingatnya. Aku cukup menikmatinya. Aku tidak heran, itu bagian dari pekerjaannya. Tapi tentu saja, yang kulakukan juga adalah bagian dari pekerjaanku. Itu adalah tindakan penyamaran. Bukan keinginanku, tapi semata-mata dedikasi dan pengabdianku terhadap negaraku. Tanah airku.
Baca selengkapnya »