Ada nggak sih orang yang mau masuk ke hidup gue,
bukan buat keluar lagi di kemudian hari dengan ninggalin kekecewaan?
Gue bahkan belajar keras untuk nggak menuntut apa-apa,
gue belajar keras tentang bullshit yang namanya “menerima apa adanya”,
gue belajar keras tentang ikut standar orang dan tinggalin standar gue yang katanya nggak manusiawi.
Baca selengkapnya »
Glen : Eh yos. Gue lagi ada masalah nih.
Yosu: Sama?
Glen: Sama si itu.
Yosu: Itu sapa?
Glen: ITUU. Masa nggak tau?
Yosu: Iya, nggak tau.
Brad: Kok nggak tau sih? Sasha aja tau!
Yosu: Ya gue bukan Sasha.
Brad: Itu yang sahabat karibnya barusan aborsi.
Yosu: Siapa yang barusan aborsi?
Brad: ITUU. Ah parah lo masa nggak tau.
Yosu: Ya emang gue nggak tau. Kasih clue.
Glen: Pacarnya anak DPR. Yang naik BMW.
Yosu: Hah? Siapa anak DPR? Cowok apa cewek?
Jay: Cewek! Jadi yang aborsi tu cowok. YA COWOK LAHH.
Yosu: Oh. Ya kayaknya gue tau. *Sebenernya nggak tau, cuma ya udahlah, daripada lama.*
Glen: Nah iya, itu. Gue bermasalah dengan ini nih. Jadi kan bla bla bla, yada yada yada, badabing badabong, kadaching kadachong, kaboom!
Yosu: Itu kan masuk klaim asuransi? Ada di klausa paling akhir? Yang gue suruh tambah?
Glen: YOSUA! YOU ARE SO GENIUS!! Gue seneng banget bisa punya temen yang tau banyak kayak lo!
Yosu: Hm. Jadi. Tadi. Siapa yang aborsi?
Mereka: *hilang bersama angin*
Why does everyone insist that I know everything?
Oct23
Aku menabrak raut wajahmu di sela-sela patung gerabah di sepanjang sisi Tuileries. Dan di foto-foto keluarga di sisi La Défense. Dalam espresso hangat yang kutenggak dua minggu belakangan. Dan di sepanjang doa di bangku kayu gereja.
Bila aku Katolik, kau adalah Maria.
—
Paris, musim gugur
Jangan menatapku seperti itu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Apa begitu saja harus kukatakan aku memilihmu karena aku kesepian? Tapi bukankah itu hakikatnya cinta? Kebohongan dan tipu muslihat penampilan? Meletakkan kata-kata yang entah dicuri dari mana di kartu warna merah muda? Made in Montmartre. One way ticket to an eventful night at bed.
Mungkin aku salah, tapi yang pasti itu yang kupelajari dua tahun terakhir bersama mantan pacarku. Kau ingat? Aku mengenalkannya padamu di dekat Montmartre. Wanita lembut penuh senyum yang kau kagumi itu. Ia menerima ku dengan alasan yang begitu mulia, seakan kami adalah tokoh kecil dalam permainan waktu: ia ingin berpacaran sebelum dua puluh. Haruskah aku bersyukur bertemu dengannya di umur sembilan belas? Sekarang mungkin kau sudah mempelajari sesuatu yang baru, penuh senyum tak berarti tulus.
Baca selengkapnya »