Sudah tiga tahun terakhir, hadiah ulang tahun gue setiap tahunnya adalah kehilangan salah satu orang yang gue sayang. Menjalani tragedi demikian bikin birthday sama artinya dengan menunggu siapa orang tersayang yang tereliminasi tahun ini.
Minggu lalu opa meninggal. Opa begitu unik dan penuh kasih sehingga kalo kalian punya opa yang sama, kalian juga pasti akan mulai bertanya-tanya tentang arti kehidupan di tengah sarapan pagi mie babimu. Alangkah singkatnya hidup ini. Cuma sekedipan mata dan tiba-tiba berakhir. Persis kentut. Tinggal nama di batu nisan. Dan kau berjas di dalam tanah, di sebelah kubur istrimu. Ditaburi bunga yang 25 ribu rupiah satu kantongnya sementara di atasmu orang-orang membaca kutipan-kutipan alkitab yang memberi argumen kenapa keluargamu yang kristen seharusnya bahagia kau terbaring kaku di bawah sana. Baca selengkapnya »
*Redaksi :
SHITTT. Gue lupa publish post ini!
Sorrryy, maafff, gomenasaiii, bon voyage, wo yau cha, dan semua bahasa yang artinya maaf.
Enjoy. — baru dipublish 14 Jan. Sebulan kemudian 
Inget pas gue bikin post tentang betapa kerennya gue berada di tengah hujan? Dengan sedikit cerita nggak penting tentang Rain? Yeah, hmm soal itu, hmm, gue rasa dia adalah salah satu pembaca rutin blog gue. Karena gue terima gambar ini di inbox gue :
Baca selengkapnya »
Temen : Dulu sebelum ketemu lo, gue orangnya bodoh dan naif…
Gue : Itulah gunanya temen bro. Kalo bukan gue yang perduli membuka mata lo, siapa lagi yang akan kasi tau lo bahwa orang di luar sana nggak segan-segan menikam lo dari belakang. Di luar sana orang bertahan hidup dengan memakan orang lain. Bahkan orang yang keliatannya baik buat lo. Jadi sekarang ceritanya setelah ketemu gue lo udah berubah dong? Jadi apa? Jadi pinter dong.
Temen : …jadi bodoh dan paranoid. Duit gue kapan lo mo balikin?
Pesan moral :
Kalo lo merasa udah membantu seseorang, nggak usah dikonfirmasi. Sapa tau cuma perasaan lo doang.