Article written

  • on 17.03.2009
  • at 09:18 PM
  • by yosu

Surat Cinta Untuknya 13

Dear sayang,

Entah apa rasanya jadi kamu. Entah apa rasanya disukai begitu banyak orang. Entah apa rasanya dikejar-kejar begitu banyak orang. Pasti rasanya ngeselin abis. Pasti rasanya ngeselin banget menjadi objek dari mata-mata yang beralih tatap saat engkau melangkah menebar bau tubuhmu. Pasti rasanya irritating banget dipuja begitu banyak orang.

Lalu aku berpikir tentang perasaan Tuhan. Having so many people admiring Him at the same time, it must be so irritating.

Aku bener-bener nggak ngerti kenapa banyak orang ingin jadi Tuhan.

Entah apa rasanya mandi sebagai kamu. Apakah di bawah shower itu, engkau berpikir tentang apa yang harus dijaga dan dibersihkan? Apa pesan mami tentang bagian tubuh yang satu ini? Lalu pesan mami tentang bagian tubuh yang itu? Dan yang ini? Dan yang itu?

Sengajakah engkau menjaga pesonamu, atau memang sekujur tubuhmu secara alami beraroma obat bius? Wangi tubuhmu seperti Viagra yang dikonsumsi lewat hidung.

Bila aku mandi sebagai kamu… kemungkinan besar aku akan pindahkan kaca besar ke kamar mandi. Lalu mandi terkekeh-kekeh cekikikan di depannya. Hanya ingin memastikan saja bahwa aku menggosok punggungku dengan benar. Itu saja.

Kemaren sore aku ke taman bunga. Baunya seperti deja vu. Seperti aku pernah ke sana. Tapi kenapa berbayang kepingan wajahmu? Berkesiapan merayap pelan-pelan di ujung ingatan. Aku ingat saat wajah kita hanya berjarak beberapa centi. Kau pasti tak tahu, saat itu kau hampir membunuhku tiga kali. Aku hampir terkena serangan jantung. Aku hampir mati tercekik menahan napas agar tak membaui wangi tubuhmu. Dan aku hampir mati dihajar massa bila saat itu aku memutuskan untuk mencuri barang sekecup saja dan kau berteriak “EEEEKK, PEMERKOSA!”

Anjing.

Tapi dipikir-dipikir… Kalau cuma hampir mati dihajar massa, itu murah sekali untuk sebuah harga kecupan. Lain kali aku akan punya keberanian untuk merubah beberapa centi itu menjadi nol. Bila kau tak berteriak, lalu aku akan mengecup bibirmu. Bila kau masih tak berteriak, lalu aku akan menyentuh dadamu. Bila kau masih tak berteriak, lalu aku akan mulai mengeksplorasi tubuhmu. Bila kau masih tak berteriak, aku akan bangun dari mimpiku, mandi lalu berangkat kerja.

Anjing.

Kapan kita akan jadian sayang? Aku kepengen kamu tahu bahwa aku open-minded. Pola pikirku modern dan tidak ikut tradisi. Jadi kita tidak perlu pake acara tembak-menembak menyatakan cinta oke? Yang penting langsung ciuman saja. Bagiku ciuman lebih penting dari jadian. Terlepas mana yang duluan.

Dan jelas aku akan bangga sekali jika bisa mengucap : “Entah kapan kami jadian, di antara kami tidak ada yang menghapalnya karena kami tidak ingin terikat pada budaya bodoh seperti itu.

Tapi yang pasti, ciuman pertama kami adalah 13 April 2007 jam 13:23 di beranda rumahnya. Dan sebentar lagi adalah ulang tahun ciuman pertama kami yang kedua.”

Aku bisa membayangkan betapa orang-orang akan iri pada kita berdua. Aku bisa membayangkan betapa pria-pria pemujamu gusar tak percaya aku yang punya wajah tak lebih baik dari mereka bisa menggandeng tanganmu sembari menunggu antrian ATM BCA. Dan aku bisa membayangkan betapa teman-teman wanitamu yang cantik-cantik itu iri luar bisa karena mereka tak pernah punya pacar dengan kualitas seperti ku. Mereka pasti penasaran sekali dan ingin paling tidak sekali saja dalam hidup mereka jatuh cinta pada pria dengan kualitas rendahan seperti aku.

Dan aku akan bangga sekali saat di hadapan mereka aku tersenyum dan berkata: “Cinta membuatnya mungkin.”

Anjing keren banget.

Aku seharusnya tidak menulis seperti di atas. Aku takut banyak orang jatuh cinta padaku karena sepenggal kalimat itu. Aku bahkan jatuh cinta pada diriku sendiri saat menuliskan kalimat itu.

Tapi kau tidak. Ribuan kalimat serupa yang kutuliskan tak mendorongmu untuk jatuh cinta padaku. Aku masih tak mengerti kenapa. Jika hanya karena kau tidak tahu siapa pengirimnya, itu bukan masalah kan. Lalu apa?

Kurasa kau unik. Kau pantas untuk dicintai. Dan dimiliki.

Dan untuk pertama kalinya, aku akan memberimu kesempatan membalas surat ini. Sebagai bukti bahwa aku kepingin komunikasi dalam hubungan cinta kita ini berlangsung dua arah. Sebagai bukti bahwa aku bukan pria egois, bahwa aku juga memberimu kesempatan menyatakan isi pikiranmu kepadaku. Setelah tujuh puluh tiga surat kujejalkan di bawah pintu kamarmu, tentu kau punya barang sepatah atau dua patah kata untuk diucapkan kepadaku bukan?

Jadi aku ingin mengucapkan : Aku cinta padamu dan aku ingin kita saling memiliki dalam kasih.

Malam ini bulan akan purnama. Bila perasaanmu tidak sejalan dengan perasaanku, nyatakanlah. Aku akan menghormati setiap pendapatmu dan menerimanya dengan tulus, apapun itu. Catlah bulan dengan warna hijau untuk menyatakan penolakanmu. Tapi bila kau setuju dan punya perasaan yang sama, diamkan saja. Aku sangat berharap tidak melihat bulan warna hijau malam ini.

Aku menunggu jawabanmu dengan hati yang berdebar kencang. Kuharap aku masih hidup keesokan hari untuk menulis surat yang ke tujuh puluh lima.

Tertanda,

Pengagum-mu
(aku tidak menyukaimu, tidak mengejarmu dan tidak memujamu, jadi tidak ada alasan untukmu terganggu karena ku)

Malamnya…

WTF?!

WTF?!

Anjing.




Entry yang rada nyambung *dikit* :

subscribe to comments RSS

There are 13 comments for this post

  1. Lan says:

    wkwkwkwkwkw KEREN..GG ko Yosua XD!

    sumpah, ngakaak baca “surat cinta” na XD!

    Lanjutkan pRestasi anda :D ..

  2. BetZ says:

    hmm… krg suka dengan kata “Anjing” =.=

  3. gw rancu. Ini beneran apa boongan Yos? wkwkwkwk. Maksud gw ceritanya, bukan bulannya. Klo bulannya gw tau banget itu pasti beneran. wkwkwkk.

    btw, rss feednya emg gw matiin. aktifinnya lagi gimana ya? wkwkwk

    • yosu says:

      Ya boongan lahhhh! Masa gue jatuh cinta!
      Itu lebih nggak logis dari bulan berwarna hijau.

      – susah banget ngomong dalam mode kebalikan.

  4. kezialee says:

    ‘cinta membuatnya mungkin’ itu mmg ‘anjing keren bangedh’ deh ko
    huahhahahhahhaha

  5. selvyna says:

    Dear the blog’s owner,

    Entah apa rasanya jadi kamu. Entah apa rasanya punya blog yang disukai begitu banyak orang. Entah apa rasanya punya entry blog yang ditunggu – tunggu begitu banyak orang. Pasti rasanya ngeselin abis. Pasti rasanya ngeselin banget punya blog yang menjadi objek dari mata – mata yang nggak ngaku saat engkau berhasil ngetrack IP address & ISP nya. Pasti rasanya irritating banget punya blog yang dipuja begitu banyak orang.

    sincerely,

    visitor

    • yosu says:

      *tertawa-sangat-bahagia*
      Gue kehabisan kata-kata buat tulis betapa gue setuju bangets!
      Ada yang mengerti perasaan gue!
      Betul rasanya ngeselin banget. Ngeselin abis. Traffic vs comment beda jauh.

      But you left a comment.
      That’s very appreciative of you.
      THX! :D

  6. ribka says:

    akhirnya akuh bisa leave commenttt wkwkwkwwkkk…
    senangnya…

    :) )

    btw bulannya knapa ga warna pink ajah yos?…lebih keren… ;p

  7. Yessica says:

    Whoaaahh…. slurrp yum!

  8. marinne says:

    TIDAAAAAAAAAAKK! gw udah ga update blog ko yos yang superb inih >.< baru disadari setelah melihat postingan yg ‘asing’

Please, feel free to post your own comment

* these are required fields

Panggil Aku Michael is powered by WordPress and FREEmium Theme.
developed by Dariusz Siedlecki and brought to you by FreebiesDock.com