Aku menabrak raut wajahmu di sela-sela patung gerabah di sepanjang sisi Tuileries. Dan di foto-foto keluarga di sisi La Défense. Dalam espresso hangat yang kutenggak dua minggu belakangan. Dan di sepanjang doa di bangku kayu gereja.

Bila aku Katolik, kau adalah Maria.

Paris, musim gugur

Jangan menatapku seperti itu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Apa begitu saja harus kukatakan aku memilihmu karena aku kesepian? Tapi bukankah itu hakikatnya cinta? Kebohongan dan tipu muslihat penampilan? Meletakkan kata-kata yang entah dicuri dari mana di kartu warna merah muda? Made in Montmartre. One way ticket to an eventful night at bed.

Mungkin aku salah, tapi yang pasti itu yang kupelajari dua tahun terakhir bersama mantan pacarku. Kau ingat? Aku mengenalkannya padamu di dekat Montmartre. Wanita lembut penuh senyum yang kau kagumi itu. Ia menerima ku dengan alasan yang begitu mulia, seakan kami adalah tokoh kecil dalam permainan waktu: ia ingin berpacaran sebelum dua puluh. Haruskah aku bersyukur bertemu dengannya di umur sembilan belas? Sekarang mungkin kau sudah mempelajari sesuatu yang baru, penuh senyum tak berarti tulus.

Montmartre - Hill of The Martyr

Ia menikam punggungku bulan lalu, di malam ulang tahunku. Tiga kali. Dengan pemecah es. Dua tahun terapi menungguku untuk hadiah ulang tahunnya: kerusakan otot belikat dan tulang bahu. Seumur hidupku, belum pernah aku mendapat hadiah seperti itu. Kini selamanya ia pergi. Entah ke mana. Tujuan hidupku: cinta dan tennis, kini menguap bersama bayangnya, berkelebat di sela daun-daun musim gugur. Umurku dua puluh lima, tapi hidupku kini cuma kertas kosong.

Lalu bila aku mengingat seorang sahabat. Sahabat sepermainan masa kecil di pondok-pondok jerami kakek di pinggiran Paris. Sahabat yang juga jatuh cinta padamu. Atau mungkin juga tidak. Mungkin aku hanya berkhayal di balik ketakutanku mendekatimu di sela panen bunga matahari musim semi ini.  Tapi bukan tanpa alasan aku berpikiran demikian. Aku melihat gerak geriknya. Petani miskin itu. Bermain dengan celemek dapurmu, membantumu membuat panekuk-panekuk hangat untuk para pekerja. Aku bersumpah ia hampir menciummu di sela tepung-tepung gandum dan gula pasir.

Dan aku bersyukur aku tidak menghantamnya dengan sekop saat itu juga.

Ayahnya berhutang banyak padaku dan aku tidak ingin memberinya alasan untuk impas dengan mengambil nyawa anaknya. Hutangnya jauh lebih bernilai dibanding nyawa petani muda yang berpikir bisa menang bersaing dengan anak bangsawan Versailles yang akan mewarisi La moncte tahun depan.

Ah sayangku, kita cuma pion-pion kecil. Dalam sebuah permainan kejam lainnya yang bernama reproduksi. Kenapa aku tertarik padamu? Kenapa dia tertarik padamu? Dan seakan hidup masih kurang rumit untuk dijalani, kenapa kau tidak tertarik pada siapa pun di antara kami?

Tatap mataku dan berpikirlah sejenak. Hitung luas ladang ayah yang akan jadi milikmu. HItung jumlah petani yang akan bekerja padamu. Bayangkan dirimu tenggelam dalam mawar, aku bisa menguburmu setiap hari. Aku bisa berikan semua itu. Setiap hari. Dan aku masih akan tetap kaya. Bayangkan aku, tubuh muda ku. Bayangkan aku menyelusup ke balik selimutmu, merangkulmu hingga matahari datang dan mencumbumu di pagi hari. Begitu hebat sehingga kau akan kesulitan berjalan tegak hingga esok hari. Dan aku bisa melakukannya setiap hari selama puluhan tahun ke depan, aku masih dua puluh lima.

Aku bisa berikan semua itu. Aku bisa.

Segera setelah kita berciuman di altar Notre Dame.

Notre Dame Cathedral

Jadi kembali sekarang. Aku sudah menghabiskan banyak waktu mengejarmu kemari. Bersumpahlah kau tak akan lari lagi. Aku menunggumu di altar tapi kau tak pernah datang. Satu-satunya alasan tak ada yang mengejekku adalah karena semua tamu hidup dari kantong ayahku. Kau memang sudah memilih, tapi kau masih bisa memilih kembali, khusus untuk kesempatan ini. Karena aku adalah pria dewasa keturunan bangsawan yang menghormati pilihan hidup orang lain. Aku akan menghormati apa pun pilihanmu. Jadi mari, ambil tanganku dan kita beranjak pergi…

…atau petani muda ini mati.