Je t’adore! 12
Aku menabrak raut wajahmu di sela-sela patung gerabah di sepanjang sisi Tuileries. Dan di foto-foto keluarga di sisi La Défense. Dalam espresso hangat yang kutenggak dua minggu belakangan. Dan di sepanjang doa di bangku kayu gereja.
Bila aku Katolik, kau adalah Maria.
—
Paris, musim gugur
Jangan menatapku seperti itu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Apa begitu saja harus kukatakan aku memilihmu karena aku kesepian? Tapi bukankah itu hakikatnya cinta? Kebohongan dan tipu muslihat penampilan? Meletakkan kata-kata yang entah dicuri dari mana di kartu warna merah muda? Made in Montmartre. One way ticket to an eventful night at bed.
Mungkin aku salah, tapi yang pasti itu yang kupelajari dua tahun terakhir bersama mantan pacarku. Kau ingat? Aku mengenalkannya padamu di dekat Montmartre. Wanita lembut penuh senyum yang kau kagumi itu. Ia menerima ku dengan alasan yang begitu mulia, seakan kami adalah tokoh kecil dalam permainan waktu: ia ingin berpacaran sebelum dua puluh. Haruskah aku bersyukur bertemu dengannya di umur sembilan belas? Sekarang mungkin kau sudah mempelajari sesuatu yang baru, penuh senyum tak berarti tulus.

Melankolis. Apatis. Satiris. Ironis. Emosional. Pemimpi. Convergent. Bukan Yosua yang anda kenal. Pembenci melankolis. Tidak berminat menjalani karir menulis buku. Membenci cabe. Membenci pink. Membenci semua pria berbaju pink yang gemar menjadikan cabe sebagai mainan. Membenci semua anjing yang bisa menggonggong. Pernah mendoakan agar semua perokok sakit ambeien. Anda sedang memasuki area Michael. Persiapkan mental anda. Jangan buang sampah sembarangan. Hati-hati anjing galak. Trims.