…dan pinggulmu yang putih keramik, betapa aku ingin meninggalkan tanda di sana. Untuk ditemukan pria lain, agar mereka tahu, ada yang sudah tiba lebih dahulu. Jauh sebelum mereka membelikan mawar-mawar merah kesukaanmu. Mawar-mawar murah di sepanjang Kunstkamera yang penuh kedustaan dan akan layu esok hari. Atau keriap-keriap kecil dari berlian etalase yang kau sapa setiap berangkat kerja. Anak-anak terhilang, katamu. Terlahir untuk pulang padamu.
Ya, tentu. Akan kupulangkan padamu.
Akan kupulangkan padamu di sela makan malam mahal di Smolenka.
Anak domba panggang. Kesukaanmu. Dan dua botol Margaux.
…bila kau menikah denganku.
– Saint Petersburg, subuh menjelang.
Aku kehabisan waktu. Subuh menjelang, matahari datang. Bau ikan sudah menerjang, di sela teriakan mandor pelabuhan. Dan aku masih terjaga. Dua botol Beaujolais dan dua bungkus Winton. Tinggal segelas dan puntung yang baru saja kulempar keluar jendela. Aku tidak punya banyak waktu.
Ini hari pernikahanmu. Pilihanmu luar biasa, katedral Saint Isaac. Ternyata kau memperhatikan saat aku meracau tentang betapa aku ingin menikahimu di sana. Ini ironi yang luar biasa. Mungkin kau lebih pintar menyindir dari aku.
Dan aku masih belum tahu bagaimana aku akan merusak acaramu hari ini. Mungkin aku akan sekadar datang dan berteriak-teriak saja. Tapi tentang apa? Oh. Mungkin tentang keperawananmu, yang kau bilang pada orang tuamu telah hilang karena kecelakaan di kelas aerobik sore dekat Sosnovka. Bila mengingat saat rahasia itu hampir terucap di makan malam Natal, aku rasanya ingin sekali menikmati raut wajah orang tuamu saat kubeberkan apa yang kuajarkan pada anak gadis mereka di malam perayaan Thanksgiving. Tapi mungkin mereka sudah tahu, dan aku akan terlihat begitu bodoh berteriak-teriak membanggakan diri tentang siapa yang merenggut keperawananmu.
Shit. What am I doing. Aku kehabisan gelas Beaujolais terakhirku. Dan aku tak bisa berpikir jernih tanpa alkohol. This is not productive. I’m creative. Think of something. Remember, I’m good at this. I deserve to be entitled for sarcasm.
Mungkin aku tidak perlu fokus padamu. Think of Leonid. Leonid Bronevitsky! Leonid sahabat terbaikku. Ya, Leonid yang sama dengan Leonid kecil yang menendang kemaluanku di hari ulang tahunku yang ketujuh. Aku berguling-guling di tanah dan untuk pertama kalinya menyebut Tuhan dengan serius. Kupikir aku akan mati saat itu juga. Leonid kecil sukses merusak pesta yang sepanjang hari disiapkan ayah di Sosnovka. Ya, Leonid!
Entah berapa bagian dari hidup kami habis hanya untuk tertawa bersama. Kami bahkan minum dari botol bir yang sama dan mencicipi seks dari pelacur yang sama. Cuma Leonid orang yang cukup sinting untuk mau bersama menemaniku mencoba terjun ke air Griboyedov pagi-pagi buta di musim dingin. Umur kami sebelas tahun dan aku sangat bersyukur kami menyimpan erat cerita tentang pengalaman pertama kami dengan alkohol malam itu. Aku masih ingat raut wajah ibunya saat tergopoh-gopoh datang ke rumah sakit. Yang akhirnya terkena stroke di ruang tunggu. Bila nelayan pincang itu tidak melintas, kita mungkin selamanya akan jadi sahabat, mati beku bersama di dasar Griboyedov.
Dan aku tak perlu membenci kalian.
Aku tidak akan pernah tahu sejak kapan ia menyukaimu. Leonid Bronevitsky dan harta warisannya. Aku juga tak akan pernah tahu mana yang lebih dahulu menarik perhatianmu.
Wanita dan rasa aman. Aman dari kelaparan maksudmu? Aku bisa memberimu makan. Itu yang kulakukan setiap kita makan siang di kedai roti sepanjang tepi Sosnovka, aku membayarimu makan. Tapi ya, aku memang tak bisa memberimu berlian. Lebih banyak dari yang Leonid bisa berikan. Tapi aku bisa mencumbumu di apartemen murahku di samping pelabuhan. Bukankah itu makna cinta kita dua tahun terakhir? Berbagi seks hebat dan sebotol anggur kelas dua? Bisakah Leonid memberimu orgasme yang sama? Tiga kali setiap malam?
Tapi itu sudah tak penting lagi. Yang penting sekarang adalah beranjak, mendahului matahari ke katedral dan berpikir di sepanjang jalan. Tentang pria macam apa yang akan aku sodorkan saat aku menendang pintu dan bayanganku jatuh di wajah terkejutmu.
Ya. Macabre bayangku di wajah terkejutmu.
Bersiaplah, sayangku. Aku antarkan ke depan altarmu.
Anggap hadiah pernikahanmu.

jef
October 8th, 2008 at 10:56
ini kaya cerpen yak…
vendy
October 8th, 2008 at 23:19
abis baca karyanya Djenar yeh?
ching
October 11th, 2008 at 0:27
ceritanya kereeeeeeeeeeeeeeeennnnn….
Yessica-Elizabeth
October 17th, 2008 at 12:38
Djenar = Djenar Maesa Ayu
pembukaan kisah yg bikin merinding!!showing the character’s personality (a bit lonely with a twist of anger, obsession and maybe distrust… hehe.. baca: gue sotoy lol)
Bagus sih, keliatannya u menguasai geografi dengan mantap (mengingat geo gue yg pernah dapet NOL hehehe), sayang gue ga tralu tau ttg geo dr kota2/tempat2 yg u sebut.. mungkin next time agk diterangin dikit ttg tmp2 tersebut atau pilih lokasi yg org tau..like, paris? haha. idk. fool me-__-.
endingnya agak terlalu “dilempar”, tapi cukup ok untuk mengikat keselurhan cerita.
in other words?
Hey, i LIKE it! XD
*keep writing, im thrill to read!!*
Yessica-Elizabeth
October 17th, 2008 at 14:32
harus yakiiiiinn!!!
Sun-T
November 13th, 2008 at 18:54
abis bikin puisi, jadi bikin cerpen…. yosu emank hebat…..
*plok…plok…plok*
sejak kapan yosu kena sindrom “ngga yakin diri sendiri”?…
gw tunggu lanjutannya y:D