Archive October 2008

Je t’adore! 12

Oct23

Aku menabrak raut wajahmu di sela-sela patung gerabah di sepanjang sisi Tuileries. Dan di foto-foto keluarga di sisi La Défense. Dalam espresso hangat yang kutenggak dua minggu belakangan. Dan di sepanjang doa di bangku kayu gereja.

Bila aku Katolik, kau adalah Maria.

Paris, musim gugur

Jangan menatapku seperti itu. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Apa begitu saja harus kukatakan aku memilihmu karena aku kesepian? Tapi bukankah itu hakikatnya cinta? Kebohongan dan tipu muslihat penampilan? Meletakkan kata-kata yang entah dicuri dari mana di kartu warna merah muda? Made in Montmartre. One way ticket to an eventful night at bed.

Mungkin aku salah, tapi yang pasti itu yang kupelajari dua tahun terakhir bersama mantan pacarku. Kau ingat? Aku mengenalkannya padamu di dekat Montmartre. Wanita lembut penuh senyum yang kau kagumi itu. Ia menerima ku dengan alasan yang begitu mulia, seakan kami adalah tokoh kecil dalam permainan waktu: ia ingin berpacaran sebelum dua puluh. Haruskah aku bersyukur bertemu dengannya di umur sembilan belas? Sekarang mungkin kau sudah mempelajari sesuatu yang baru, penuh senyum tak berarti tulus.

Baca selengkapnya »

Saint Petersburg 6

Oct6

…dan pinggulmu yang putih keramik, betapa aku ingin meninggalkan tanda di sana. Untuk ditemukan pria lain, agar mereka tahu, ada yang sudah tiba lebih dahulu. Jauh sebelum mereka membelikan mawar-mawar merah kesukaanmu. Mawar-mawar murah di sepanjang Kunstkamera yang penuh kedustaan dan akan layu esok hari. Atau keriap-keriap kecil dari berlian etalase yang kau sapa setiap berangkat kerja. Anak-anak terhilang, katamu. Terlahir untuk pulang padamu.

Ya, tentu. Akan kupulangkan padamu.
Akan kupulangkan padamu di sela makan malam mahal di Smolenka.
Anak domba panggang. Kesukaanmu. Dan dua botol Margaux.

…bila kau menikah denganku.

Kunstkamera

Baca selengkapnya »

Aku & Kertas Kosong 5

aku dan kertas kosong
kami bengong
termenung
bersama
meretas
menghitung elegi
kata per kata
yang belum terucap
berkeliling angan
di sela lagu cinta
di ujung pena

entah
untuk siapa
kami bersama
aku dan kertas kosong
melompong
cuma kami
dan detak
jam dinding goblok
mengolok-olok
kami, yang terdiam
di tengah malam
cuma satu atau dua
teguk anggur merah
tanpa ada
kata-kata
cuma wajah
yang memerah

mungkin karena
kami terbiasa
melihat dunia
melalui mata
seorang wanita
ibu anak-anak
kembar yang penuh tawa
yang tak jadi dilahirkan
karena ia, sudah
tak lagi ada

adzan berkumandang
bahasa arab diulang-ulang
pagi menjelang
matahari menerjang
bau ikan berdatangan
kami masih bersama
aku dan kertas kosong
yang masih melompong
entah sampai kapan
kami akan bengong

Panggil Aku Michael is powered by WordPress and FREEmium Theme.
developed by Dariusz Siedlecki and brought to you by FreebiesDock.com