Siapa yang melindungi anak Anda saat bermain di lantai?

Gue suka analogi. Di dalam pemikiran gue, analogi menempati rak yang sama dengan sarkasme, tindakan yang menurut gue intelligent dan civilized. Waktu menyampaikan pesan, gue bisa dengan nyaman mengarahkan pesan hanya untuk orang-orang yang pintar dan yang mau berpikir, sementara sisanya cuma bilang: “Hah? Maksudnya apa sih?”

Dua jam yang lalu gue ngepel lantai kamar. Ngepel lantai bukanlah sebuah pekerjaan yang nikmat. Ngepel lantai nggak melibatkan proses berpikir, memecahkan masalah, meringkas premis atau menarik konklusi dalam jumlah yang adequate buat gue. Ngepel lantai hanya melibatkan aktivitas membungkuk, menggerakkan besi berkain itu maju mundur atau berputar-putar atau kiri kanan tergantung mood dan feng shui, sambil menyanyikan lagu-lagu putus cinta. Bukan sebuah kegiatan yang asik dilakukan, apalagi bila kamar kos lu segede ruang tamu orang.

Jadi seperti biasa gue melamun. Melamun adalah pekerjaan yang nikmat. Melamun melibatkan proses berpikir, memecahkan masalah, meringkas premis atau menarik konklusi dalam jumlah yang sangat adequate buat gue. Melamun tidak melibatkan aktivitas fisik apa pun, tapi tetap bisa dilakukan sambil menyanyikan lagu-lagu putus cinta. Sebuah kegiatan yang asik dilakukan, apalagi bila kamar kos lu segede ruang tamu orang tapi isinya cuma lu seorang.

Dan gue melamun tentang betapa mengepel sangat sama dengan hidup gue.

Saat-saat mengepel adalah saat-saat yang melelahkan, membosankan, berat, tidak fun, buang-buang kalori dan lemak perut, bikin laper dan apalah semua yang nggak enak. Nggak henti-hentinya gue kepengen bilang, ngepel itu menyebalkan. Karena itu now and then gue juga selalu bilang: jadwal ngepel minggu ini bisa diundur karena minggu lalu gue udah ngepel. Betapa gue sangat menikmati kegiatan mengundur jadwal ngepel. Dan bila hal ini terjadi, biasanya minggu depan akan ada kalimat yang sama. Tapi biasanya gue akhirnya terpaksa ngepel juga, dengan penekanan lebih pada kata terpaksa. Hal itu biasanya terjadi bila salah satu dari berikut ini terjadi:

  • Alarm jadwal ngepel tri-minggu bunyi di desktop.
  • Debu seisi kamar sepakat ngumpul di satu tempat.
  • Gue iseng pake kacamata di kamar.
  • Ada tamu yang nelpon mo dateng.
  • Autis gue sembuh.

Terjangkit tetangga sebelah.

Saat gue memutuskan untuk mulai mengepel, biasanya pada saat itu pula gue memutuskan untuk batal. Kadang ada ruginya juga menjadi orang yang melakukan hal-hal dengan proper planning. Terbayang di depan mata betapa luas kamar gue dan betapa banyak hal yang harus dikerjakan. Beberapa sesi ngepel terakhir gue menemukan cara baru buat memulai ngepel, yaitu dengan menyiapkan ramuan pel duluan. Menyiapkan ramuan pel adalah kegiatan yang menyenangkan, penuh dengan wangi-wangian, cipratan air yang penuh kenangan masa kecil dan kegiatan mengaduk-aduk yang menyenangkan. Dan satu hal yang paling penting, gue terpaksa nggak jadi batal karena gue udah spend duit buat cairan pel yang mengklaim dirinya rasa jeruk (tapi kalo gue liat reaksi semut terhadap cairan ini, gue percaya klaim rasa jeruk itu bohong besar).

Lalu masa-masa berat itu mulai datang. Di depan gue terhampar begitu banyak barang-barang yang harus dipindahkan sebelum kamar bisa dipel. Dan memindahkan adalah kegiatan yang sama menyebalkannya dengan mengepel! Karena sehabis kegiatan memindahkan, ada satu kegiatan lagi yang sama menyebalkannya sudah menunggu: mengembalikan. Gue selalu bertanya-tanya kenapa gue baru bisa ngepel setelah memindahkan barang-barang terlebih dahulu? Kenapa gue nggak langsung ngepel aja? Tapi birokrasi dan budaya mengharuskan gue buat memindahkan barang-barang dahulu sebelum gue bisa ngepel. Jadi mau nggak mau gue harus!

Bukti nyata kemiskinan gue.

Memang benar peribahasa yang bilang : Mengepel penuh dengan pilihan. Saat menggerakkan batang besi itu, terserah gue apakah mau maju mundur, kiri kanan atau berputar-putar, liat kamasutra untuk informasi lebih lanjut. Dan sialnya nggak ada cara yang paling baik. Ngepel maju mundur emang bikin debu jadi ke arah gue dan lebih mudah dikumpulkan dengan berjalan mundur, tapi ngepel gini juga bikin sejumlah debu menjauhi gue! Sementara kalo ngepel kiri kanan enak banget buat lorong lemari gue, tapi bikin debu kegeser ke kiri dan kanan nempel di sudut dinding. Dan baru-baru ini gue baru tau ternyata ngepel muter-muter malah meratakan debu ke semua bagian lantai. Great.

Master of Kamasutra in action.

Eits tapi jangan lupa, mengepel penuh dengan pilihan! Gue bisa memilih apakah gue akan tetap nyaman dengan batang besi itu, ato gue bisa fokus rebah lebih jauh dengan alat yang lebih efektif lagi: kain pel. Obviously ngepel dengan batang besi jauh lebih nyaman dibanding dengan kain pel! Tapi gue nggak mau rugi dengan semua cairan pel dan lemak yang udah gue keluarin sampe detik ini. Kepalang ngepel, bersih sekalian.

Kay, tengah udah, lorong udah, apakah semua selesai? Uh uh. Ternyata masih ada sudut yang terlewat, yaitu kolong ranjang gue dan sudut mati kamar yang gue persembahkan buat dewa bumi biar feng shui aliran energi postifi di kamar gue bagus or whatever. Gue nggak mungkin pake tongkat besi ajaib buat bersihin tempet itu! Ya kecuali gue memilih buat mati kesetrum karena di sana ada hub listrik. In case of that, kalian juga bisa pilih apakah mau gue setengah mateng, crispy atau original.

Tempat tinggal dewa bumi. Kadang ada sesajen serangga mati.

Lalu gue inget! Mengepel penuh dengan pilihan. Gue bisa aja cuekin tempet ini. Apalagi kolong ranjang, siapa yang akan berkunjung ke sana? Dan sudut ini, siapa yang akan duduk ke sana? Nggak ada jalan buat ke sana karena terhalang ranjang dan meja komputer. But oh well, sooner or later someone akan duduk di ranjang gue dan melongok ke sana. Dan bila itu terjadi, gue percaya semua image kebersihan kamar gue jadi berantakan karena satu tempat yang gue terlantarkan ini. So to make it complete, gue pel manual tempat ini dari kolong ranjang karena kalo gue pel dari atas, selain susah ngumpulin debu juga bahaya banget kalo keringet gue sampe netes ke hub listrik.

Waktu berlalu, semua kering, kain sudah dibilas, tongkat sakti sudah dibilas, ember sudah dibersihkan, semua debu kecil sudah manually dibuang pake tisu, sprei udah diganti, maka yang tersisa tinggal penantian. Penantian? Ya, penantian akan kebanggaan dan decak kagum dari seseorang yang spesial yang akan datang lewat pintu kamar gue. Seseorang yang selalu kesel karena kamar gue berantakan. Decak kagum ini yang akan bikin gue semangat kembali ngepel minggu depan, minggu depannya lagi dan minggu depannya lagi.

Apakah lantai kamar lo gini?

Tapi lalu gue melamun di pintu.
Bila orang itu tak lagi ada, apakah tujuannya gue ngepel?

PS: Sori kalo nggak ngerti. Bukan salah gue IQ lu terbatas.