Tes, tes. *ngiiing*
Selamat malam semuanya. Hari ini kita sudah sampai di sesi ke 3 mata kuliah Phobology. Oke, sebelum saya mulai, ada yang bisa setting laptop saya?
Mahasiswa : Cueileeee, pake Debian, Pak Yos?
Pak Yos : Oh iya. Saya sih nggak ngerti apa keunggulannya, cuma kayaknya keren aja.
Oke, pembahasan kita hari ini adalah Cabephobia. Ada di antara kalian pemuda-pemudi tanpa masa depan yang tahu?
Mahasiswa A : Itu adalah jenis phobia yang takut terhadap cabe Pak! Cabephobia berasal dari kata cabe dan phobia.
Pak Yos : Salah. Kurang spesifik.
Mahasiswa B : Mungkin phobia yang takut kalo dekat-dekat cabe Pak!
Pak Yos : Salah. Spesifik namun merujuk pada point yang belum benar.
Mahasiswa C : Phobia yang nggak nyaman kalo ada orang akrobat pake cabe, Pak!
Pak Yos : Salah!
Oke, sebelum semua otak-otak muda ini makin sesat dalam dunia pengetahuan yang luas ini, lebih baik saya jawab dulu. Cabephobia itu adalah salah satu jenis phobia yang dasarnya adalah kejiwaan, di mana si penderita merasa tidak nyaman dalam hidupnya karena tinggal satu planet dengan orang-orang yang suka makan cabe.
Mahasiswa : CABE DEEEH!
Sama halnya dengan phobia-phobia kejiwaan lainnya, secara umum Cabephobia muncul karena pengalaman yang sensasional bersama cabe atau elemen apa pun yang kedengeran seperti cabe, misalnya babe, cakwe, jahe. Contoh nyata misalnya tabe (salam anjing) yang sering dipaksakan oleh si pemilik, yang menjadi alasan kenapa anjing juga mengidap Cabephobia terlihat dari sikap anjing yang tidak pernah makan cabe.
Gejala umum penderita Cabephobia bisa terlihat dari sikapnya di meja makan. Yang paling utama ialah, penderita tidak menggunakan cabe di makanannya. Penelitian selama bertahun-tahun masih belum menemukan titik penting dalam kasus-kasus Cabephobia, “Apa yang ditakuti penderita dari cabe?” Padahal titik penting dalam pengobatan phobia adalah menemukan sumber ketakutan utama penderita. Para peneliti mencurigai adanya hubungan antara cabephobia dengan rasa cabe yang pedas tapi belum ada yang membuktikan teori tersebut.
Mahasiswa : CABE DEEEH!
Penderita cabephobia rajin membuat berbagai macam alasan kenapa mereka tidak mau makan cabe. Hebatnya, dari sekian banyak alasan tersebut, semua terdengar logis. Berikut contoh alasan-alasan yang mereka buat :
Mahasiswa : CAB… (terdiam)
Penderita juga menggeneralisasi cabe, sambel, saos, rawit dan keluarganya menjadi satu kategori : cabe. Sehingga usaha dokter untuk menggunakan istilah “ini sambel-yang-nggak-pedes” gagal total karena semua sambel adalah cabe, dan cabe itu pedas. Bahkan walaupun bahannya bukan cabe, misalnya : sambel kacang.
Pada tingkat yang lebih akut, penderita bahkan menjauhi kontak fisik terhadap cabe. Pada banyak kasus, penderita menggunakan sendok yang pegangannya dibungkus tisu untuk menggeser wadah cabe di meja, lalu mengambil sendok baru yang lain untuk menggeser jauh-jauh sendok yang kontak dengan wadah cabe tersebut, lalu akhirnya mengambil sendok baru yang lain untuk makan.
Pada beberapa penderita, pengalaman indera mereka terlibat langsung dengan motorik diri. Misalnya di meja ada masakan cabe pake daging sapi, cabe kuah ikan, cabe masak singkong dan cabe pake nasi. Walaupun si penderita tidak memakan makanan tersebut, telinganya mulai merasa gatal dan perasaan nauseous bergejolak di perut si penderita. Selanjutnya tinggal apakah penderita bisa tahan untuk nggak ngamuk dan membalik meja makan. Beberapa penderita akut bahkan punya refleks luar biasa terhadap kata cabe. Saat ada yang menyebut kata cabe, penderita langsung koprol ke belakang.
Kehidupan penderita cabephobia yang sudah sulit di tengah trend makanan murah yang pedas, lebih dipersulit lagi oleh animo masyarakat terhadap penderita. Masyarakat cenderung geregetan terhadap penderita dan memaksa penderita untuk memakan cabe, entah karena tujuan mulia atau bisikan syetan. Saya kenal dan akrab dengan seorang penderita studi thesis saya yang bernama Michael. Suatu hari di masa kecilnya, seorang sahabat menyelipkan cabe rawit ke dalam desert Michael dengan tujuan bercanda. Grand result yang sahabat lucu ini dapatkan ialah : Michael memuntahkan seisi makan siangnya dan tidak pernah lagi bicara dengannya sampai hari ini. Padahal sahabat yang dimiliki Michael hanya segelintir hitungan jari tangan kanan. Saya masih kepengen tahu apa ada yang ketawa saat itu, namun sayangnya Michael tidak mau bicara lagi tentang lawakan hari itu.
Sebenarnya, ada satu penyakit yang lebih berbahaya dari Cabephobia, yaitu Cabephobiaphobia. Cabephobiaphobia adalah penyakit dimana si penderita secara aktif baik psikologis maupun fisik, geregetan melihat penderita cabephobia. Pada awalnya tujuan mereka mulia : membuat penderita cabephobia mau makan cabe, atau tujuan mulia nggak penting lainnya : membuat lawakan abad ini. Ingat kasus Michael barusan? Apa hasil mulia yang keluar dari insiden tersebut?
Mahasiswa : Sahabat Michael jadi makin berkualitas pak, karena yang dodol baru aja tereliminasi.
Pak Yos : ITU RETORIS GOBLOK. Nggak usah dijawab!
Mahasiswa : Oh, maap pak.
Saya juga kepikiran sih, kenapa tidak pernah terlintas sedikit pun dalam otak seukuran biji cabe mereka, bahwa cabephobia adalah kebiasaaan penyakit yang years-over-years menumpuk perlahan-lahan, menggerogoti dari dalam sampai menguasai dan sudah terlambat, bukan sekadar amnesia yang digetok ulang jadi sembuh! Mereka berpikir, karena mereka makan cabe, maka mereka masuk kategori “normal” dan setiap yang “tidak normal” harus mendapatkan perlakuan khusus! Siapa yang menyangka bahwa ternyata penyakit mereka justru lebih parah dari cabephobia sendiri!! Siapa yang menyangka bahwa mereka harus membaca blog seorang penderita cabephobia untuk tau bahwa ternyata mereka Cabephobiaphobia!!
Mahasiswa : (terdiam)
Pak Yos : …umm…
Mahasiswa : Bapak cabephobia?
Pak Yos : Enggak! Saya makan rendang kok! Makanan padang juga saya makan!
Mahasiswa : Rendang mana pedes sih pak.
Pak Yos : Wo zen ai ping ciu, hen ni tan pen tan!
Mahasiswa : Artinya pak?
Pak Yos : Cuma pepatah cina singkat. Artinya : Barangsiapa yang berbicara lagi akan ngulang semester depan.
Mahasiswa : (terdiam)
Saya rasa pertemuan hari ini sampai di sini saja. Untuk pertemuan minggu depan, kita akan membahas gymnophobia atau phobia melihat orang telanjang. Untuk itu, silahkan buat esai dua halaman mengapa orang-orang gymnophobia tidak boleh dibilang konyol.
Oke, sampai jumpa minggu depan.

Eric Narendra
April 1st, 2008 at 19:43
bagaimana seorang gymnophobia kawin pak?!
vendy
April 1st, 2008 at 20:08
rujak bebek, rujak buah, rujak salad . . . *lho?
yosu
April 2nd, 2008 at 7:39
@Eric
Pertanyaan Anda sebagai mahasiswa agak aneh. Cara mereka kawin ya sama dengan cara saya dan Anda kawin. Mang ada orang yang cara kawinnya beda, gitu?
@Vendy
Nggak suka semua!
Riky Kurniawan
April 4th, 2008 at 12:57
Haaa…kalender hormonnya bolong² :))
Alfred
April 7th, 2008 at 14:18
wah,, gw baru tau ada cabephobia.
selama ini cuma tau togephobia.
orang cabephobia, kalo dilemparin sekuntum cabe bisa ngibrit ga yakk?? kayak org togephobia…hohoho…
Rafael
April 9th, 2008 at 19:40
ilang kemana lage ne mpunya ne blog
Eric Narendra
April 9th, 2008 at 23:40
yeeeyy.. 1 minggu lebih michael gak nge-blog..
takut diblokir sama pemerintah yak klo nulis macem2?
hahaha..
ching ^0^
April 10th, 2008 at 12:47
om yos, kemana dirimu???
kq ga ada postnya lage??
orgnya jg ga perna keliatan lagi di ym… heuheuhue…
yosu
April 10th, 2008 at 14:07
@RK
Sial lo ki. Kalo musibah nggak masuk itungan dong!!
@Alfred
Ya ngibrit! Ngibrit buat nyari senjata tumpul terdekat biar kejadian ini nggak terulang lagi.
@Rafael
Anu… aku… tertimpa musibah…
@Eric
Takut?! Takut?!!
Ya iya sih…
@Ching
T___T
Aku pun sedih…