Article written

  • on 13.01.2007
  • at 06:54 AM
  • by yosu

Annual Refresh part. 2 1

Jan13

Hari 5 (25 Desember 2006) :
Kebaktian akbar itu pun tiba. Seperti biasa, gereja penuh. Mungkin kalau natal, ada obral pengampunan dosa… Sayang, tidak ada yang spesial. Untungnya akhir acara cukup spesial.

Aku bertemu dengan teman-teman masa kecilku.
Ada cewek yang dulu rajin nari di bawah asuhan mami, dulu gua naksir dia. Sekarang tinggi putih dan keriting gantung.

Ada juga cewek makeover yang juga pernah gua naksir, jauh sebelum dia makeover. Sekarang tinggi langsing, meluruskan rambut dan sudah pake two-way cake. Satu-satunya alasan kami masih bisa dekat karena maminya satu geng ama mami gua di gereja. Dan gua jujur setengah bersyukur atas hal tersebut. Hari itu tangannya digandeng cowok lain. (Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dengan karakteristik keluarga seperti itu, gua pikir dia gak bakal pernah pacaran.)

Ada cewek yang pernah gua ajak pasangan waktu valentine di persekutuan remaja <<padahal dia nyata-nyata lagi naksir orang lain, HOHOHOHO>>. Sekarang dia sudah pake concealer + two way cake dan membentuk alisnya jadi runcing.

Ada juga anak gadis orang yang dulu kecilllll banget. Anaknya manis. Sering main kejer-kejeran ama gua (karena gua seneng kalo bisa deket sama cecenya). Sekarang gua denger dia udah pacaran 15 kali. Itu bagus… Pendidikan dini.

…dan anak-anak gadis om ini dan om itu yang nggak pernah absen berbisik-bisik dan tertawa kecil setiap aku lewat.

Things change… Do I?

Lalu aku melihat bayi-bayi yang lahir dari pasangan seiman. Mendadak aku iri. Sepintas aku kepengen pulang ke Jakarta dan membenamkan wajah di dada yang menenangkanku selama ini. Tak ayal keinginan sepintas itu jadi keinginan yang membara saat semakin banyak orang bertanya, “Sudah semester berapa?”

Gua jengkel dan menghabiskan waktu mengekor mami dan memeluk jas gua. Gua jengkel atas fakta orang-orang hanya fascinated sama rambut gua. Nobody noticed I smiled 10x more than last year, or 100x more than last two years. Nobody noticed now I greet people before they greet me.

…it was supposed to be a very merry christmas. Felis navidad. I WAS dreaming of a White Christmas. When Santa laughed and Rudolph sniffed the red nose. The day turned out to be grey. I wanted to go “home”. “Home”.

…I was on the way to the car. A stupid car without AC and remote alarm, when God sent me a christmas gift, dalam bentuk wanita muda semampai.

“Yosua? Merry christmas, ya! Apa kabar sekarang?”
“Merry christmas juga. Baik, baik. Sekarang di mana? Jakarta?”
“Iya, Jakarta. Di sana ke gereja mana? Nggak pernah keliatan.”
“Oh gua nggak minat sama persekutuan remaja yang lu datengi. Kayak berkabung dalam kubangan masa lalu. Ada lu di dalemnya. Oh, gua mah ke mana-mana. Bethel jadi, GKJ gua datengin, Stephen Tong gua pantengin, HKBP aja pernah.”
“Yosua sekarang makin ramah yah. Dulu cemberut terus.”
Semua orang pasti ramah kalo ngomong sama malaikat kayak kamu. What can I say, people change.”
“Gua berubah?”
Iya, dulu lu bunga di jalan. Sekarang hadiah dari surga. Iya berubah. Jadi lebih tenang dan dewasa.”
Dia tersenyum, manisssss banget. “Eh udah dulu yah, gua ditungguin orang.”
Tunggu dulu, pliz tinggal bentaran. Oh iya gua juga udah mo pulang.”

Ia melambaikan tangan dan… menggandeng seorang pria. Lalu mereka masuk ke sedannya yang melaju ke luar gereja tak lama kemudian. Rich people. You know what’s wrong with them? THEY DONT ACHIEVE DREAMS, THEY BUY THEM. And they ruin people with the same dreams as them, in a single mastercard swipe. THANKS.

Inilah yang salah dengan jiwa gua. Gua jarang banget mengkhayal happy ending. Iya, percakapan tadi imajinatif. Mami lama banget masuk mobil, jadi gua mengkhayal dulu di pinggiran mobil. Sayang, yah. Kadang-kadang gua bingung kenapa Tuhan kasih gua otak penuh imajinasi kayak gini. Gua selalu buat orang ketawa, tapi kenapa gua nggak bisa buat gua sendiri ketawa.

Bener-bener Christmas Kelabu…




Entry yang rada nyambung *dikit* :

subscribe to comments RSS

There is one comment for this post

  1. Ismail says:

    Kadang x2 kita ngerasa kita ‘hiburan’ buat orang laen kalo kita engga bisa menertawakan diri kita sendiri. Nerima itu yang pertama abis itu menertawain diri kita, itu artinya kita uda ngmaapin kesalahan kita (at least for me !!)

Please, feel free to post your own comment

* these are required fields

Panggil Aku Michael is powered by WordPress and FREEmium Theme.
developed by Dariusz Siedlecki and brought to you by FreebiesDock.com