Hari ini Jakarta ramah sekali. Ia menyapaku dengan sapaan rutinnya, Gelombang Panas. I always wonder kenapa Jakarta lebih panas dibanding Palembang. Jualan baju untuk season fall-winter serasa ironis di sini. Di bagian mana Jakarta bisa pake jaket? ;kalau bukan karena kebanggaan mendalam terhadap klub –yang membunuh hasil perjuangan.


Apa karena lebih dekat ke Khatulistiwa, ah nggak juga. Apa karena Jakarta sudah terlalu ramai dengan manusia, ah jangan dibahas, kan aku pendatang (yang memberikan sumbangan untuk perkembangan). Lantas aku menyimpulkan saja, ini dikarenakan terlalu sedikit orang seperti aku di Jakarta. Kota terkutuk ini butuh lebih banyak orang yang dingin (terutama di bagian kepala) dan pasif melihat setiap keadaan; bukan aktif dengan setiap penghancuran.

Mungkin aku harus buat milis untuk orang-orang yang dingin dan frigid.
Michael Abigail
_____________________________________________________________________________________

Tadi siang di saat aku makan mie di warung seberang kosku, ada sebuah kejadian yang menarik. Dua orang anak sibuk memasang rantai sepeda yang terlepas dari girnya. Lalu apa yang menarik? Salah satu dari anak tersebut… gimana nyebutnya… umm… abnormal, dalam konsep tidak seperti anak-anak lainnya. Kita namai dia Michael –anak yang terbuang. Anak lainnya kita namai Leonardo –anak yang arogan.
Buatku, memasang rantai ke gir adalah pekerjaan sepele. Bertahun-tahun yang lalu, aku berkelana ke seluruh penjuru Palembang-ku (membentang dari km.12 sampai km.5) dengan sepeda gunung multi-transmission-ku. Tanpa sahabat, aku harus belajar memasang sendiri rantai dengan konfigurasi rumit tersebut; gir sepeda transmisi berlapis-lapis.

Melihat dua orang anak tersebut, aku setengah bersyukur tidak punya sahabat.
Mike : “Bisa nggak, Do?”
Leo : “Sabar dikit nape, gue tampol juga lo!”
Mike : (mengangkat sepeda agar gampang dilihat)
Leo : “Sini geser, goblok. Jangan diganjel, bego.”
Mike : (memberikan plastik untuk membungkus tangan agar tidak kotor terkena gemuk rantai)
Leo : (percakapan tidak jelas, kecuali bagian : “…bego… …goblok… …bego… …goblok…”)
Mike : (menemukan plastik lain dan memberikannya pada Leo)
Leo : (walau kalimatnya variatif, vocabulary-nya monoton) …bego… …goblok…
Mike : “Bisa nggak, Do?”
Leo : “Diem dikit napa sih lu? Gua tampol juga lo!”
Mike : “Inget lu yang rusakin ye tadi.”
Leo : “AH! CAPEK GUE! BENERIN SENDIRI SANA. Goblok.”
Ibu Leo : “Leo sini, ude nggak useh dibenerin. BENERIN SENDIRI SONO, BEGO!”

Mike berjalan dengan sepeda rusaknya entah ke mana. Sekilas aku tiba-tiba ingin beranjak keluar warung dan menawarkan diri untuk memasang rantai tersebut. Sekilas terbayang betapa bahagianya wajah Mike dengan sepedanya yang baik-baik lagi. Sekilas terbayang apa yang ingin aku lakukan sebagai perpisahan : aku ingin mentraktirnya Milo dingin di warung mie. Tapi aku menampiknya, “Ah, itu hanya ada di utopia, bukan Jakarta.” Seandainya aku benar-benar melakukannya, akan ada banyak orang yang membenciku; karena di Jakarta, orang-orang membenci orang yang baik terhadap sesama. Dimulai dari Si Ibu yang dengan bangga menyandang predikat Teladan yang Tidak Mengajar.

Ah, Mike hanyalah seekor anak kucing di dunia yang luas. Dan pembahasan ini sudah jauh melenceng dari niat awal penulisan (aku ingin(wanted; past tense –red) bercerita tentang betapa dinginnya kepala Mike menerima sikap demikian). XD Tapi sudahlah. Yang penting seluruh dunia tahu cerita tentang Mike –anak yang terbuang dan Leonardo –anak yang arogan.

Frederik Alexander
_____________________________________________________________________________________

Ada sebuah tempat.
Di mana pagi tak pernah biru dan malam tak pernah hitam.
Di mana orang tak ingin kepanasan namun juga tak ingin kehujanan.
Mulai tahun lalu, anakku sekolah di sana.
Maka lihatlah tahun depan ia pulang dengan celotehnya.
Tentang gemerlap dunia mahasiswa.
Lengkap dengan rambut pirangnya.
Dan foto wanita yang dicintainya.
Lalu aku menyela dan bertanya,
“Sampai kapan mau hidup di sana?”
“Selamanya,” katanya.
Sebab selain semua nama di friendster-nya ada di sana
Ia juga sayang akan CDMA-nya
ditambah kerinduan akan mal-mal favoritnya

…lalu aku beranjak ke kamarku.
Membuka-buka album foto tahun yang berlalu
Mengingat-ngingat betapa anakku yang malu-malu
Menunjukkan program pertamanya saat itu
Dan berceloteh tentang mimpi yang sangat lucu
Menjadi ahli komputer yang nomor satu

Ada sebuah tempat.
Di mana pagi tak pernah biru dan malam tak pernah hitam.
Di mana orang tak ingin kepanasan namun juga tak ingin kehujanan.
Hilang anakku pergi ke sana
Untuk tinggal selamanya…

– St. Leonardo