Ada sebuah prinsip luar biasa di dalam keluarga gua yang sangat gua banggain :
Di keluarga ini semua orang harus berpikir rasional
Yah berarti para pembaca sudah dapet dua prinsip dari keluarga gua, satu tentang bulu dan satu lagi yang sebentar lagi bakal merubah hidup kalian selamanya. Salah satu buah hasil dari filosofi keluarga kami yang sampai sekarang terus mengakar karena prinsip ini : tidak ada mitos di dalam rumah ini. Kalau tidak bisa dijelaskan secara rasional, tidak usah dijunjung di rumah. Kalo masih bandel berarti bersiaplah. Bersiap untuk apa? Bersiap untuk jadi bulan-bulanan satire Papi gua (dan gua; khususnya di tahun-tahun terakhir). Banyak sekali keluarga di Indonesia (mungkin keluarga Anda salah satunya) yang masih terus-menerus mendidik anak dengan beberapa arah pola pemikiran yang salah. Ini besar kaitannya dengan tingkat pendidikan dan kebiasaan, walau ternyata agama juga ikut mempengaruhi.
Misal :
Ira : (bersiul)
Ibu : HUSSS! Kalo malem jangan bersiul, Ira!
Ira : Kenapa, Bu?
Ibu : …ngundang setan.
Ibu : Edi, makanannya dihabiskan dong, sayang.
Edi : Males bu. Mo main lagi.
Ibu : Kalo nasinya nangis, Ibu nggak nanggung yah.
Edi : …umm… kalo tambah ayam Edi habisin, deh.
Sesusah apa sih untuk bilang ke anak, “Bersiul di malam hari mengganggu tetangga, Ira. Kamu juga nggak mau kan kalau diganggu malam-malam?” Atau, “Ayah kan sudah bekerja keras agar kamu bisa makan yang enak-enak. Masa kamu tega biarin Ayah kerja sia-sia, sayang?”
Kecenderungan yang salah ini makin sering muncul apabila anak ternyata kritis dan aktif. Seiring perkembangan otak dan pola pikir, mereka mulai mempertanyakan segala hal.
“Pa, kenapa bunga warnanya merah?”
“Ko, pacaran itu ngapain sih?”
“Ma, Clara kok nyusu di dada sih, Ma?”
“Pa, kok Hena nggak punya jenggot?”
“Ko, itu apa yang gantung-gantung di selangk…” EHEMM. Contohnya sampai di sini saja.
Ternyata tidak sedikit Ibu yang menganggap sikap anak yang demikian sebagai suatu faktor yang mengesalkan. Pada awalnya, anak-anak puas terhadap semua jenis jawaban yang diberikan. Namun lama-kelamaan, mereka semakin kritis dan bertubi-tubi dalam bertanya, membuat orang tua (terutama si Ibu yang paling banyak berinteraksi di rumah) menjadi kewalahan dan perlu senjata utama untuk meredam pertanyaan-pertanyaan si anak. Khususnya, bila anak mulai mempertanyakan perintah orang tua.
Pada alur biasa, percakapan yang mungkin terjadi seperti demikian :
“Hena, sini jangan duduk di pintu. Sini sayang.”
“…nggak mau, di situ panas. Koko juga jahil.”
“Kalo Hena duduk di situ kan orang jadi susah lewat.”
“Maaaam, pintu kan lebar. Bisa tuh lewat, lewat.”
“Kalau orang bawa barang kan Hena bisa kena.”
“Entar Hena minggir kalo ada orang bawa barang.”
Kalau sudah begini, biasanya option yang sering diambil kebanyakan orang tua ada dua. Yang pertama adalah kekerasan. Sebuah pilihan yang nyata-nyata salah. Selain membuat luka di jiwa anak yang akan terus dibawa ke masa dewasanya, si anak juga akan mengambil teladan yang sama dalam merawat anaknya kelak di kemudian hari.
Nah, option kedua yang sering diambil adalah dengan menggunakan satu argumen final yang tidak bisa (atau tidak boleh) dilawan oleh anak. Biasanya enforcement atau intimidasi. “Kalo nggak minggir, mama nggak kasih kue” termasuk dalam enforcement. Intimidasi bisa berupa “Hena, jangan sampe mama pukul ya!” Bentuk lain dari intimidasi bisa juga dengan menakut-nakuti anak, sebab salah satu elemen luar biasa dalam mengontrol anak adalah rasa takut. Cara menakut-nakuti anak bisa juga dengan membuat-buat mitos. Misalnya, “Cewek yang duduk menghalangi pintu akan susah dapet jodoh.”
Di sinilah mitos-mitos ini mulai muncul, beragam, berkembang sesuai imajinasi dan kreativitas sang ibu dan mengambil peran penting dalam kehidupan mental si anak. Si Ibu tentu sangat terkejut dan amat menyukai betapa efektifnya mitos-mitosan ini mengendalikan anak mereka sehingga mereka meninggalkan semua cara lain dan beralih penuh ke metode yang berbahaya ini.
“Hena, sini jangan duduk di pintu. Sini sayang.”
“…nggak mau, di situ panas. Koko juga jahil.”
“…kalo cewek duduk di situ bisa nggak dapet jodoh lho.”
<percakapan selesai, anak pindah>
Apabila hal seperti ini berkembang di rumah Anda, maaf yah, orang tua Anda sudah salah merawat anak. Nggak usah fanatik, akui saja. Anda harus mulai mengambil tindakan. Mulailah saat liburan natal, di mana Anda menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebagian besar anak-anak ingin tumbuh besar dan berkembang PERSIS seperti ayahnya atau ibunya. DON’T. Yang benar adalah, tumbuh besar dan berkembang lebih baik dari ayah atau ibunya, namun dengan tidak meninggalkan nilai-nilai orang tua yang merawatnya.
Pasti ada alasannya kenapa suara Anda persis suara papi. Juga wajar kalau senyum Anda pelit seperti mami. Juga normal kenapa Anda sesinis papi dan punya hati seperti mami. Yang tidak jelas alasannya adalah, apabila Anda merawat anak dengan cara salah yang sama.
…sebelum Anda menjadi orang tua. Ingatlah. Jadilah teladan yang rasional untuk anak Anda.

Riky
November 14th, 2006 at 7:44
komen dl baru baca
————————————————————————————————–
Yosu:
Dubraks deh. Gua pikir cepet amat udah ada comment.
Tau nggak, kalo komen dulu baru baca itu nggak baik, bisa kualat, blog sendiri bisa sepi. XD
AguzX
November 19th, 2006 at 7:07
akhirnya yosu nulis blog lage…. dah 1 ato 2 minggu-an yah sejak kasus in love
————————————————————————————————–
btw nulis artikel diatas ttg keluarga cie2, emang dah mao kawin yah yos? jangan lupa yah, undang2 gw
Yosua :
Semua orang sih pengen cepet-cepet kawin. Cuma, sudah tradisi untuk jawab, “Masih lamalah, masih muda gini.”
Btw, gua ikut tradisi ajalah. Masih lama, Gus. XD