Terlalu banyak orang di Indonesia berpikir menjadi Mayoritas
adalah segalanya. Pilih partai yang paling merah, dengerin lagu yang paling
disukai orang, pakai baju yang dipakai orang banyak, dan lain-lain dan
lain-lain. Menurut gua sih itu sah, sampai pada suatu siang seseorang merusak
pandangan gua.
"Dek, jangan makan di sini, lagi musim puasa."
"Lho bang, cuma di sini tempet makan yang buka. Kalo nggak
makan di sini, ya saya nggak makan. Masa saya ikutan puasa?"
"Ya saya tahu, cuma, kan nggak enak sama yang puasa.
Cobalah dihormati."
"Lho, orang lain yang mau makan juga nggak boleh makan
nih?"
"Bukan begitu dek, tapi mayoritas kan puasa. Coba
dimengerti."
"Ya sudah terserah bapak lah, saya kan MINORITAS."
Terlalu banyak orang di Indonesia berpikir menjadi Mayoritas
datang dengan berjibun hak. Sementara saya yang berharap berada di negara lain,
berpikir menjadi mayoritas seharusnya datang dengan kewajiban. Lalu seorang
ustadz di TV berkata, "…menjadi mayoritas, bukan hanya hidup, berjalan
dan bernapas di bumi dengan hak, tetapi juga dengan kewajiban. Menjadi
mayoritas, memang salah satunya mendapat hak untuk dihormati, namun juga
memikul kewajiban untuk menghormati kembali dan menjadi teladan untuk
minoritas. Di bulan puasa inilah, kesempatan untuk kita, untuk menunjukkan
kebersihan hati dan menjadi teladan…"
…gua udah ambil satu teladan.
"Kalo lagi nggak bisa makan, laranglah orang lain makan."

AguzX
October 12th, 2006 at 20:17
wk wk wk, ini mah tergantung sama orangnya,
Puasa tanpa godaan? nga seru kale, ibaratnya sama aja kaya lo kuliah diajarin sama dosen yang jago ngajar, and dapet kisi2 yang 100% keluar diujian…. pas kluar nilai matakul itu A, sambil senyum and teriak oh yes, oh crot crot…
Puasa dengan banyak godaan and lo bisa nahan godaan itu and nga batal, Bagaikan kuliah dapet dosen tua yangngomong ama papan tulis, bncc lage bikin event and lo jadi panitianya, trus lage ada project internal yang numpuk, trus dapet ujiannya kisi2nya ga ada yang kluar pula,, untungnya lo ikutan blajar bareng, pas kluar nilai matakulnya A….
walaupun sama2 dapet A, kl kata orang2 yang sering ceramah seh lebih “nikmat” dapet A dengan crita yang ke2
tapi kita kan MANUSIA bung…. kl bisa gampang kenapa harus dibikin susah? (INGET bukan kl bisa susah kenapa harus dibikin gampang) Tanya kenapa????
——————————————————————————————–
Yosu :
“…tapi kita kan MANUSIA bung…. kl bisa gampang kenapa harus dibikin susah? (INGET bukan kl bisa susah kenapa harus dibikin gampang) Tanya kenapa????”
Mendingan, daripada susah sendirian, ajak orang lain susah juga yuk?
Sebenernya konteksnya agak salah, yang mau gua tunjukkin, bukan konteks puasanya. Tapi bagaimana mayoritas seharusnya bersikap terhadap minoritas.
———++++———
Q : Merusak gedung dan perkantoran boleh nggak?
A : Boleh, soalnya kita nggak mampu beli majalahnya.
Q : Tapi kan orang jadi kehilangan pekerjaan?
A : Ah jadi pengurus yayasan atau organisasi aja.
Q : Menyerang tempat bisnis orang lain boleh nggak?
A : Boleh, soalnya kita nggak mampu masuk, walaupun ladies night.
Q : Menutup peternakan babi seenaknya boleh nggak?
A : Boleh. Daripada iri terus-terusan cium bau sate panggangnya?
Q : Menindas minoritas boleh nggak?
A : Bolehlahhh, soalnya mayoritas semua orang begitu.
Q : Kalo ada mayoritas yang nggak begitu?
A : Berarti “minoritas dari mayoritas”.
Greetz to RK. What a good life to show, dude. b(”,)d Two thumbs up. Selamat menjalankan ibadah puasa untuk minoritas dari mayoritas lainnya.
AguzX
October 13th, 2006 at 6:02
Long Live to the King…
Long Live to the Queen…
Long Live to Minoritas dari Mayoritas

*nb: sory utk bung yos jadi kek chatting, padahal ini kan utk taro comment, bwahahaha bwahahah bwahahah bawhaha bwahaa bwaha, crot crot…, udah ah gw mo boker d
————————————————————————————————
Yosu :
Yah itung itung payback dari lu buat yang di forum. ;P (tring)