Terlalu banyak orang di Indonesia berpikir menjadi Mayoritas
adalah segalanya. Pilih partai yang paling merah, dengerin lagu yang paling
disukai orang, pakai baju yang dipakai orang banyak, dan lain-lain dan
lain-lain. Menurut gua sih itu sah, sampai pada suatu siang seseorang merusak
pandangan gua.

 

"Dek, jangan makan di sini, lagi musim puasa."

"Lho bang, cuma di sini tempet makan yang buka. Kalo nggak
makan di sini, ya saya nggak makan. Masa saya ikutan puasa?"

"Ya saya tahu, cuma, kan nggak enak sama yang puasa.
Cobalah dihormati."

"Lho, orang lain yang mau makan juga nggak boleh makan
nih?"

"Bukan begitu dek, tapi mayoritas kan puasa. Coba
dimengerti."

"Ya sudah terserah bapak lah, saya kan MINORITAS."

 

Terlalu banyak orang di Indonesia berpikir menjadi Mayoritas
datang dengan berjibun hak. Sementara saya yang berharap berada di negara lain,
berpikir menjadi mayoritas seharusnya datang dengan kewajiban. Lalu seorang
ustadz di TV berkata, "…menjadi mayoritas, bukan hanya hidup, berjalan
dan bernapas di bumi dengan hak, tetapi juga dengan kewajiban. Menjadi
mayoritas, memang salah satunya mendapat hak untuk dihormati, namun juga
memikul kewajiban untuk menghormati kembali dan menjadi teladan untuk
minoritas. Di bulan puasa inilah, kesempatan untuk kita, untuk menunjukkan
kebersihan hati dan menjadi teladan…"

 

…gua udah ambil satu teladan.

"Kalo lagi nggak bisa makan, laranglah orang lain makan."